Jumat, 09 April 2010

Intoleransi Makanan Pada Anak

Satu dari 10 anak penderita hiperaktivitas, atau disebut juga Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), mungkin diperparah kondisinya oleh pola makan yang buruk. Sememtara itu, ada beberapa anak-anak lain yang menderita alergi terhadap makanan-makanan tertentu.

Pengaruh Makanan terhadap perilaku merupakan isu yang kontroversial. Namun, polam akan yang buruk, kekurangan asam lemak esensial, dan alergi makanan dipastikan memperkuat gejala-gejala gangguan tertentu. Gejala itu meliputi perilaku merusak, gelisah, konsentrasi rendah, sulit belajar, canggung, mudah marah, dan kemampuan social yang rendah. Sebagai contoh anakn dengan ADHD diduga sering punya masalah dengan metabolisme gula. Gejala ini lebih terasa di pagi hari ketika makanan bergula dikonsumsi untuk sarapan saat perut kosong. Gula oalahan akan menghilangkan mineral-mineral, khususnya kromium, yang diperlukan dalam metabolisme gula dan mengendalikan kadar gula darah. Defisiensi ini akan menyebabkan hipoglikemia yang mengarah pada tindakan-tindakan agresif.

Kekurangan seng, kalsium, dan magnesium akan menyebabkan kegelisahan, konsentrasi rendah dan kesulitan belajar. Kekurangan mineral ini juga dikaitkan dengan gejala ADHD. Zat gizi lain juga sangat penting ialah asam lemak esensial omega-3 dan omega-6 sejumlah studi menunjukkan bahwa kekurangan asam lemak esensial ini mengaruh pada masalah-masalah perilaku dan kesulitan belajar. Banyak anak ADHD ternyata mengalami kekurangan asam lemak esensial, riset membuktikan bahwa anak-laki-laki cenderung menderita kekurangan asam lemak yang parah, serta kemampuan membaca dan mengeja yang lebih buruk. Studi lain, meski masih pada tahap awal, menghugbungkan depresi dan perubahan suasana hati dengan kekurangan omega-3 para ilmuwam menduga bahwa asam lemak ini meredakan gejala-gejala yang menunjukkan terjadinya perubahan suasana hati. Peningkatan asupan zat ini dalam makanan atau melalui suplemen menunjukkan peningkatan metabolisme otak dan mengatasi gejala ADHD.

Kekurangan thiamin (Vitamin B1), juga berhubungan dengan perilaku agresif, impulsive, dan eratik (tak terduga). Kentang, padi-padian, utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, telur, daging, sayuran, dan beras merah merupakan sumber yang kaya akan vitamin B1. vitamin b6 pun tak kalah pentingnya.

Banyak studi yang menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dan intoleransi makanan dengan masalah-masalah perilaku, seperti ADHD beberapa pakar nutrisi percaya kalau gula tidak berhubungan dengan masalah perilaku. Namun, intoleransi dan alergi terhadap bahan-bahan aditif makanan, khususnya pewarna yang sering didapatkan pada makanan manis dan bergula, merupakan akar masalahnya. Menyingkirkan alergen makanan terbukti efektif dalam menangani anak ADHD.

Si kecil ADHD?

Biasanya, anak usia tiga, empat, atau lima tahun senang ke sana-sini, gampang teralihkan perhatian, serta cenderung tantrum alias cepat ngambek. Namun, bila si kecil selalu menangis setiap kali Anda ‘mencoba’ meninggalkan rumah, sering membuat masalah ketika bermain dengan anak lain, serta bikin onar di sekolah, Anda mungkin akan bertanya-tanya, apakah semua itu merupakan gejala awal ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Diagnosa
“Pada kebanyakan anak di bawah usia enam tahun, ADHD agak sulit didiagnosa,” kata James Perrin, M.D., ketua komite ADHD di American Academy of Pediatrics. Namun, ia menambahkan, kabar baiknya adalah anak Anda belum tentu membutuhkan diagnosa itu. Anda masih bisa kok, mengasah keterampilan yang berhubungan dengan perilaku yang bermanfaat bagi semua anak. Anak prasekolah perlu dibentuk, mampu mengantisipasi, membagi tugas dalam langkah-langkah yang mudah, serta mendapat hadiah untuk kesuksesan kecil. Namun, beberapa anak membutuhkan hal ini lebih dari anak lain.

Rutinitas sederhana
Isyarat secara visual amat menolong. Misalnya, bila salah satu anak Anda selalu menempati tempat duduk saudaranya saat nonton TV, letakkan dua buah handuk sehingga jelas posisi duduk masing-masing. Atau jika anak punya masalah memfokuskan perhatian ketika berpakaian di pagi hari, tugas ini dipecah menjadi langkah-langkah yang lebih sederhana (“Pertama, pakai celana pendek kamu. Sekarang, baru pakai kausnya.”) serta ilustrasikan semua ini dengan bagan di dekat tempat tidur si kecil. Beri hadiah begitu ia melakukannya dengan benar. Bersabarlah; bisa jadi butuh waktu sampai berminggu-minggu sebelum Anda melihat ada kemajuan. “Tapi bila pada akhirnya ia bisa mengenakan sendiri pakaiannya, ini berarti Anda punya rencana yang bisa dijalankan anak Anda,” kata Sharon Weiss, konsultan perilaku dan penulis From Chaos to Calm: Effective Parenting for Challenging Children with ADHD and Other Behavioral Problems.

Bantuan luar
Jika Anda sudah mencoba pendekatan tersebut dan anak Anda masih saja punya masalah dalam melakukan berbagai hal, bicarakan dengan dokter anak Anda, yang mungkin akan merujuknya ke pakar kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater anak, atau dokter anak yang juga pakar perkembangan perilaku. Para pakar ini bisa mendiagnosa kasus-kasus langka ADHD yang bisa diderita anak di usia ini – atau membantu menguak keterlambatan perkembangan, bila ada. “Ia mungkin saja bilang, Anda punya anak umur empat tahun yang sangat unik,” kata dr. Perrin. “Tapi paling bagus sih, ya diperiksa lebih lanjut.”

Mungkinkah penyebab anak-anak ADHD adalah dampak dari perbuatan orangtuanya?

Hasil riset pakar psikolog mengenai perilaku ADHD belum tahu jawaban yang pasti, tapi penyebabnya dari berbagai faktor, misalnya faktor keturunan, karena kondisi lingkungan, pengaruh dari makanan, atau gangguan ketidak-harmonisan di dalam keluarganya; perceraian, penyalahgunaan zat adiktif dll. Jadi bagi para orangtua sebaiknya mengikuti perkembangan anak-anaknya sejak awal, sehingga hal ini bisa diminimalisir dan dicegah sedini mungkin.

Teori-teori Penyebab ADHD

  • Cedera otak. ADHD bisa terjadi akibat dari infeksi, luka berat, atau komplikasi yang tejadi semasa hamil atau persalinan.
  • Merokok. Orangtua terutama ibunya semasa hamil suka merokok, dan perilaku merokok dianggap sebagai pelarian karena sedang mengalami gangguan perhatian, depresi, atau stres, dapat mempengaruhi janin. Sampai saat ini belum ada hubungan ADHD dengan ibu perokok , tapi dari hasil riset telah terbukti dengan jelas bahwa ibu yang merokok selama masa kehamilan adalah satu penyebab gangguan perhatian pada anak-anak.
  • Cedera kelahiran. Hasil riset mencurigai penyebab utama ADHD adalah berkaitan dengan neurologis masa kanak-kanak akibat cedera, atau sakit waktu kelahiran.
  • Kematangan otak yang tertunda. Hasil riset mengatakan belum ada bukti neurologis yang mendukung teori ini, dan sifatnya masih hipotesis, meski pun perilaku anak-anak ADHD tampak ada gejala-gejala defisit sosial; kurang perhatian, impulsif, dan susah diatur.
  • Keracunan timah hitam. Timah hitam sangat berbahaya bagi saraf. Timah hitam bisa ditemukan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, misalnya: cat dinding rumah dan sudah mengelupas, solder yang digunakan untuk mengelas pipa air, polusi dari bensin yang mengandung timah hitam menimbulkan tingginya kadar timah hitam yang mencemari udara : knalpot dari kendaraan bermotor, polusi pabrik limbah yang mengandung timbal.
  • Bahan tambahan pada makanan. Dr. Benjamin Feingold (tahun 1974), spesialis alergi anak, menyatakan bahwa separuh lebih dari hiperaktivitas anak-anak disebabkan oleh pewarna, pengawet, dan perasa buatan (pemanis buatan : aspartam yang terdapat dari merk dagang ‘Equal’ dan ‘Nutrasweet’, penelitian Dr. Grant Martin, Penerbit BIP 2008).
  • Makanan tidak sehat. Sebaiknya orangtua memilihkan makanan yang tidak menggunakan zat pewarna dan perasa buatan, begitu juga dengan cokelat, MSG, zat pengawet, kafein. Disarankan mengonsumsi yang rendah gula dan bahkan bebas susu, jika di keluarga ada yang mempunyai masalah mengonsumsi susu sapi. Riset Dr. Conners menyimpulkan bahwa gula dan karbohidrat yang dimakan sendirian saat sarapan bisa menimbulkan masalah perilaku, hal ini bisa dicegah jika digabung dengan protein.
  • Gula halus. Gula sebagai salah satu penyebab hiperaktif sudah ditengarai sejak tahun 1929, tapi sampai sekarang bahkan cenderung orang mengonsumsi gula secara berlebihan, dan inilah salah satu penyebab makin banyaknya anak-anak pengidap ADHD. Cara menetralisirnya Dr. Conners menyarankan dan menganjurkan agar imbangi makanan dengan asupan protein yang cukup. Ahli gizi dapat membantu andamemilih makanan yang sehat bergizi dan seimbang.
  • Penyakit medis. Penyakit ini bisa menjadikan hal buruk yang spesifik. Penyakit-penyakit ini bisa dihubungkan dengan gejala-gejala ADHD termasuk kekurangan zat besi (anemia) karena cacing kremi. Jangan anggap enteng dengan anemia karena cacing, segera periksakan anak anda kalau tampak sering lemas, bisa saja anak mengidap cacingan.
  • Obat-obatan. Hasil penelitian mengatakan bahwa obat-obatan seperti obat penenang akan memicu munculnya ADHD terhadap anak-anak. Obat-obat penenang itu bisa ditemukan pada obat flu, obat asma, obat alergi. Orangtua harus waspada dan hati-hati terhadap kemungkinan yang akhirnya bisa memperburuk kondisi anak. Diteliti bahwa obat anti alergi dapat mengakibatkan ketiadaan perhatian.
  • Faktor keturunan. Penelitian yang mengejutkan para orangtua adalah bahwa faktor keturunan merupakan faktor tunggal yang dipercaya sebagai denominator umum pada anak-anak ADHD. Anak-anak ADHD empat kali lebih mungkin memiliki saudara kandung dan orangtua yang juga mengidap ADHD ketimbang anak-anak normal. Juga, anak-anak yang mengidap ADHD dibesarkan oleh sebuah keluarga adopsi empat kali lebih mungkin memiliki orangtua biologis ADHD dari pada anak-anak tanpa ADHD yang diadopsi.

Kurang Perhatian (ADHD)?

Anakku paling senang hatinya ketika sudah hari Jum’at, artinya dia ada libur 2 hari yang akan digunakan untuk bermain, dan itu bisa seharian penuh asyik bersama-sama dengan teman-teman sekomplek. Kadang-kadang mereka bergantian menginap di salah satu rumah temannya. Meski pun aku kurang setuju tapi susah sekali aku melarangnya, mereka punya alasan kalau orangtuanya mengizinkan perbuatan itu.

Aku perhatikan diantara teman-temannya itu ada salah satu yang lebih menonjol kelihatan dari tingkah lakunya yang lebih agresif dan kalau bicara tidak bisa dipotong, sedang yang satunya lagi lebih tampak sedikit bijaksana, tapi kalau bicara banyak menentang dan kalau bicara sering kebalikannya dari kenyataan, yang satunya lagi betul-betul pendiam tapi penurut, apa kata teman-temannya … hayuu saja, tidak ada ide atau usul. Yang satunya lagi, aku perhatikan kalau masuk ke rumahku, pertama kali yang dia lakukan adalah membuka kulkas.. lalu mengambil apel, dan selalu apel terus yang diambilnya padahal ada buah-buahan lain.

Selama ini aku tidak pernah khawatir dengan tingkah laku anakku, rasanya normal-normal saja…. toh teman-temanku pun selalu bilang… “biasa kok… itu normal… malah anakmu itu kayaknya cuek dan mandiri?…” tapi akhir-akhir ini aku sering menjadi merenung, benarkah begitu?

Aku mencoba menganalisa sendiri dan sering berkonsultasi dengan teman-teman yang berprofesi sebagai psikolog atau dengan teman-teman yang mempunyai anak dengan perilaku ADHD, selain itu aku memang tertarik untuk mendalami lebih jauh lagi masalah yang berkaitan dengan perilaku anak-anak dengan mengikuti berbagai lokakarya, seminar, atau pun “short course’ berbagai penelitian terhadap anak-anak. Hasilnya aku rangkum dalam tulisan, dan mungkin ini bisa menjawab pertanyaan beberapa teman mau pun untukku yang sama merasa khawatir mengenai perilaku anak-anaknya.

Untuk mendiagnosa secara tepat, tenaga profesional biasanya akan mengumpulkan data-data secara lengkap untuk memutuskan diagnosis apakah anak tersebut

- latar belakang keluarga anak
- Kemungkinan gangguan pendengaran
- Ketidakmampuan belajar
- Kecemasan dan depresi
- Pengaruh obat-obatan sebelumnya yang memungkinkan terjadinya gangguan otak
- Kondisi fisik seperti kondisi lobus frontal
- Test psikologi (adaptasi sosial, kesehatan mental, test intelligensi, dan test prestasi)
- Situasi-situasi pencetus stress pada anak

Beberapa test lainnya dapat diberikan oleh terapis berupa tes kemampuan membaca, pemecahan matematika, atau beberapa papan permainan. Tenaga profesional kadang juga perlu melakukan obervasi secara langsung dalam kehidupan sang anak. Bila ditemukan adanya gangguan ADHD secara pasti, tenaga ahli akan membicarakan masalah ini kepada gurunya di sekolah, guru juga akan dilibatkan dalam mendiagnosa gangguan tersebut, biasanya guru akan diberikan sebuah form evaluasi (behavior rating scales) perilaku anak untuk diisi oleh guru yang bersangkutan.

ADHD dapat ditengarai sejak anak berusia sangat kecil. Pada bayi, gejala yang nampak, adalah:

• Terlalu banyak bergerak, sering menangis, dan pola tidurnya buruk
• Sulit makan/minum
• Selalu kehausan
• Cepat marah/sering mengalami temper tantrum
Pada anak balita, gejala ADHD yang kerap terlihat, adalah:
• Sulit berkonsentrasi/memiliki rentang konsentrasi yang sangat pendek
• Sangat aktif dan selalu bergerak
• Impulsif
• Cenderung penakut
• Memiliki daya ingat yang pendek
• Terlihat tidak percaya diri
• Memiliki masalah tidur dan sulit makan
• Sangat cerdas, namun prestasi belajar tidak prima.
Tidak semua anak yang mengalami ADHD terlihat memiliki gejala ini, karena sangat tergantung pada tingkat ADHD yang diidapnya.

“Anak saya nakal, apakah anak saya hiperaktif (ADHD)?

Borderline artinya dalam bahasa Indonesia adalah perbatasan. Saya juga kurang mengerti maksud dari Borderline ini menurut dokter anak tersebut karena saya tidak berkomunikasi langsung. Kalau dalam bidang psikiatri biasanya kita menggunakan istilah borderline untuk IQ yang berada diperbatasan antara normal (90-120) dan retardasi mental. Jadi individu dengan IQ borderline tidak digolongkan pada retardasi mental tetapi juga tidak bisa disebut normal karena ada sedikit kekurangan. Sebaiknya perilaku anak Ibu diterapi sehingga semakin besar tidak semakin menjadi-jadi. Terapi juga akan menstimulasi otaknya agar lebih optimal dalam IQ-nya. Bila perlu diberikan vitamin otak untuk mengoptimalkan efek stimulasi sehingga \'performance\'-nya lebih baik.

Bila Ibu berkenan, boleh anaknya dibawa untuk assessment ke Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Soeharto Heerdjan, Jl. Latumeten No.1, Grogol, Jakarta Barat. Waktunya pk 8.00-13.00. Untuk selanjutnya dibuatkan rencana untuk terapi.