Sabtu, 10 April 2010

Susu Sapi dan Gandum Bersifat Morfin bagi Penyandang Autis

Susu sapi dan gandum bagi penyandang autis (autism spectrum disorders/ASD) tertentu bersifat morfin. Pasalnya, protein susu sapi (kasein) dan protein gandum (gluten) membentuk kaseomorfin dan gluteomorfin, sehingga terjadi gangguan perilaku seperti hiperaktif.

Hal itu diutarakan dr Sjawitri P Siregar SpA(K) dalam Konferensi Nasional Autisme-1 pada hari ketiga, Jumat (4/7) di Jakarta. Hal itu terjadi karena kebocoran saluran cerna (leaky gut syndrome) sebagai akibat tidak seimbangnya bakteri dan jamur. Ketidakseimbangan itu muncul akibat pemakaian antibiotika yang berlebihan sehingga meningkatkan permeabilitas usus. Antibiotika akan membunuh bakteri flora usus seperti laktobasilus. Sementara, jamur terutama candida akan tumbuh berlebihan sehingga selaput dinding usus terganggu.

Keadaan itu menyebabkan berbagai makromolekul protein susu sapi atau zat toksik melewati dinding saluran cerna ke darah. Akibatnya bisa terjadi gangguan susunan dan fungsi otak yang mengakibatkan gangguan tingkah laku, gangguan perkembangan dan gangguan proses belajar. Selain itu, kata Sjawitri, pada anak-anak ASD terjadi gangguan enzim pencernaan, seperti enzim Dipeptidylpeptidase IV (DPP IV) yang berfungsi menguraikan ikatan peptide, sehingga pencernaan protein terganggu.

"Protein susu sapi dan protein gandum tidak akan tercerna sempurna. Kedua peptide itu akan diserap saluran cerna anak autis yang mempunyai kerusakan barier selaput lendir usus, dan di dalam otak bertindak sebagai neurotransmiter palsu dan berikatan dengan reseptor morfin sehingga terjadi gangguan perilaku," katanya.

Ia menjelaskan, susu sapi adalah antigen pertama yang dikenal bayi. Protein susu sapi terdiri atas 25 macam fraksi, yang masing-masing dapat menyebabkan reaksi simpang setelah minum susu sapi atau alergi.

Alergi susu sapi lebih sering terjadi pada usia tahun pertama dari kehidupan karena selain faktor genetik, faktor barier selaput lendir usus (mukosa) masih imatur, serta faktor lingkungan turut berperan. Angka kejadian alergi susu sapi meningkat di berbagai negara dengan meningkatnya penyakit alergi seperti asma, rinitis, dan dermatitis atopik. Di Poliklinik Alergi Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/ RSCM sekitar 2,4 persen anak alergi susu sapi.


Diet Kasein
Sjawitri menyebutkan, alergi susu sapi muncul karena kelainan imunologi (kekebalan tubuh) yang disebut juga hipersensitivitas. Kelainan imunologi itu terdiri atas empat. Tipe I (IgE mediated), muncul segera dalam beberapa menit sampai dua jam setelah minum susu sapi. Tipe II, disebut antigen antibodi dependent cytotoxic yang menimbulkan gejala trombositopeni setelah beberapa jam. Tipe III, merupakan reaksi kompleks antigen antibodi, gejalanya muncul setelah 1-24 jam minum susu sapi. Tipe IV, onset, yang gejalanya muncul setelah beberapa jam sampai beberapa hari minum susu sapi.

Ia menambahkan, pencegahan alergi bisa dilakukan sejak usia bayi masih dalam kandungan. Ia menganjurkan ibu hamil yang alergi untuk menghindari susu sapi. Juga tidak merokok.

Bila air susu ibu (ASI) tidak bisa diberikan, dianjurkan bayi minum susu sapi hipoalergenik atau susu sapi hidrolisat sampai umur enam bulan. Si ibu juga minum susu sapi yang sama. Karena, susu sapi hidrolisat mempunyai ukuran molekul yang lebih kecil.

Pada kesempatan itu, dr Rini P Parmadji SpJP yang mempunyai seorang anak penyandang autis, mengaku menerapkan diet pada anaknya sejak berusia 17 bulan. Diet yang dilakukan meliputi, diet bebas kasein dan gluten, diet bebas gula, diet bebas jamur, diet bebas zat aditif, diet bebas fenol dan salisilat, diet rotasi, pemberian suplemen makanan. Di samping itu, cara memasak dan penyediaan makanan pun diatur. Seperti, makanan tidak dimasak pada wadah terbuat dari aluminium.

Setelah tiga bulan anaknya diet gluten dan kasein (menghindarkan semua produk makanan seperti biskuit, roti, makanan kemasan, susu sapi, keju, permen susu) terjadi perubahan. Anaknya lebih tenang, mampu berbicara, dan cara berlarinya lebih mantap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar