Sabtu, 10 April 2010

Terapi Makanan Buat Anak Autis

Melalui makanan, orang tua dapat melakukan terapi bagi anak-anak dengan gejala autis. Makanan yang disajikan tentu terdiri atas bahan-bahan yang bebas dari zat-zat pemicu autisme.

Dari hasil berbagai penelitian diketahui bahwa terapi bagi gangguan autisme dilakukan secara komprehensif, yaitu terapi biomedikal. Pengaturan makan merupakan bagian dari terapi biomedikal.

Anak dengan autisme umumnya alergi terhadap makanan. Pengalaman dan perhatian orangtua dalam mengatur makanan dan mengamati gejala yang timbul akibat makanan tertentu sangat bermanfaat dalam terapi.

  • Diet tanpa gluten dan kasein.

Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga wheat seperti tepung terigu, oat, barley. Sedangkan kasein merupakan protein yang terdapat dalam susu dan olahannya, seperti keju, dan yoghurt. Kedua bahan itu pada anak autisme dapat memicu masalah.

Makanan tradisional Indonesia bisa memberi solusi bagi anak autisme dalam menghindari gluten dan kasein. Untuk anak autis, orangtua bisa memilihkan nasi, mi dari tepung singkong, susu kedelai sayuran, buah segar, serta menghindari zat penyedap dan pewarna makanan.

  • Diet untuk alergi & Intoleransi.

Anak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang

menimbulkan alergi biasanya ikan, udang, susu coklat, gandum, dan banyak lagi. Untuk mengatur makan bagi anak yang alergi dan intoleransi makanan. :

- Perhatikan sumber penyebab.

- Hindari makanan pemicu alergi / intoleransi. Contohnya,

bila alergi telur, hindari makan telur, meski bukan harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak dapat dikenalkan lagi pada makanan tersebut sedikit demi sedikit.

Cara umum mengatur makan :

1. Berikan makan seimbang guna menjamin tubuh anak memperoleh zat gizi lengkap untuk keperluan pertumbuhan dan perbaikan sel-sel yang rusak dalam kegiatan sehari-hari.

2. Hindari konsumsi gula, khususnya pada anak yang hiperaktif dan menderita infeksi jamur. Berikan fruktosa sebagai pengganti gula karena penyerapannya lebih lambat dari gula (sukrosa).

3. Untuk memasak, pilih minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kedelai.

4. Cukup mengkonsumsi serat dari sayuran dan buah.

5. Pilih makan yang bebas food additive ( pengawet, penambah rasa, warna, dan lain-lain)

6. Baca label makanan untuk mengetahui komposisi dan masa kadaluarsa.

7. Hindari junk food. Buat makanan sendiri agar aman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar